Dalam “kandang banteng” pemilihan gubernur Jawa Tengah dan Sumatra Utara, calon yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus unggul dari PDI-Perjuangan.
Menurut sejumlah pengamat politik, kemenangan pasangan calon yang diusung KIM Plus di kedua wilayah itu dipengaruhi paling banyak oleh dukungan Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto.
Megawati Soekarno Putri, ketua umum PDIP, dengan lantang menanggapi kekalahan partainya di kandang banteng.
Kekuatan yang menghalalkan segalanya saat ini mengancam demokrasi. Pada Rabu (27/11) malam, Megawati mengatakan dalam pesan video bahwa kekuatan ini mampu menggunakan sumber daya dan alat-alat negara.
Dia menambahkan bahwa kondisi tersebut dia lihat di berbagai wilayah, seperti Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Sulawesi Utara.
Misalnya, saya mendengar bahwa di Jawa Tengah, penggunaan penjabat kepala daerah hingga mutasi aparat kepolisian untuk tujuan politik elektoral sangat besar. “Ini tidak boleh dibiarkan lagi,” tegas Megawati.
Namun, dukungan Jokowi dan Prabowo tidak memiliki dampak yang signifikan di tempat lain, seperti Jakarta dan Bali, di mana calon yang diusung PDIP mengalahkan KIM Plus.
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Hasil Quick Count Pilkada Jateng
Hasil cepat dari Pilkada Jawa Tengah membuat PDIP kehilangan suara.
Andika Perkasa-Hendrar Prihadi, yang mereka usung, kehilangan sekitar 16% hingga 18% suara dibandingkan dengan Ahmad Luthfi-Taj Yasin, yang diusung oleh KIM Plus.
Ini seperti kekalahan Pilpres 2024, ketika Prabowo-Gibran menang di Jateng dengan 53,08 persen suara dibandingkan dengan Ganjar-Mahfud, kandidat PDIP, dengan 34,34 persen.
Dalam menanggapi temuan itu, Bambang Wuryanto, atau Bambang Pacul, ketua DPD PDIP Jawa Tengah, tidak memberikan komentar yang signifikan.
“Cuaca sedang tak baik-baik saja,” katanya secara metaforis.
Sebaliknya, Ahmad Luthfi mengucapkan terima kasih kepada Jokowi dan Prabowo atas dukungan mereka kepadanya.
Di posko pemenangannya di Semarang, Luthfi mengatakan, “Ini adalah kepercayaan, dalam arti integrasi dengan presiden ketika saya nanti terpilih.”
Pengaruh Jokowi di Pilkada Sumut dan Jakarta
Di Sumatra Utara, pasangan calon Edy Rahmayadi-Hasan Basri dari PDIP unggul telak dari menantu Jokowi, Boby Nasution, dan calon wakil gubernurnya, Surya.
Namun, BBC News Indonesia tidak dapat membandingkan hasil hitung cepat dari lembaga survei lain karena fakta bahwa hanya satu lembaga survei yang mengeluarkan hasil ini untuk pemilihan gubernur Sumatra Utara.
Saat mendeklarasikan kemenangannya pada Rabu (27/11) malam, Bobby juga mengucapkan terima kasih kepada mertuanya, Jokowi, dan Prabowo.
Dia menyatakan bahwa sukarelawan Prabowo, Jokowi, dan wakil presiden, serta kakak ipar Bobby, Gibran Rakabuming Raka, berkontribusi pada kemenangan ini.
Sementara itu, Edy Rahmayadi menyatakan bahwa sampai hasilnya diketahui, ia akan mengikuti proses penghitungan suara resmi yang dilakukan oleh KPU.
Edy menyatakan, “Saya, salah satu wakil kontestasi, saya akan ikuti [proses] ini.”
Jakarta belum benar-benar menjadi kandang banteng. Namun, Jokowi membuat kesalahan dalam kampanyenya dengan terang-terangan mendukung Ridwan Kamil-Suswono dan mengirimkan surat dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto sehari sebelum pencoblosan.
Paslon ini tidak menang hanya karena dukungan dua pembesar ini.
Calon PDIP Pramono Anung-Rano Karno, yang didukung oleh Anies Baswedan, memimpin perolehan suara berdasarkan hitung cepat.
Dengan hasil yang akan datang, lembaga hitung cepat belum dapat memastikan apakah putaran kedua Pilkada DKI Jakarta akan dilakukan.
Meskipun demikian, kubu Pramono-Rano, yang memiliki lebih dari 50% suara, secara resmi mengklaim kemenangan satu putaran.
Berdasarkan penghitungan suara formulir C1, Aria Bima, sekretaris Tim Pemenangan Pramono-Rano, menyatakan bahwa timnya telah memperoleh suara sebesar 50,09%.
Pada konferensi pers yang diadakan pada Kamis (28/11) dini hari, Aria menyatakan, “Pasangan Mas Pram-Bang Doel secara resmi kami nyatakan menang dalam satu putaran.”
Sebaliknya, kelompok yang didukung Ridwan Kamil-Siswono percaya bahwa Pilkada DKI Jakarta akan dilanjutkan ke putaran kedua.
Ketua tim pemenangan Ridwan Kamil-Siswono, Ahmad Riza Patria, menyatakan, “Hasil input data yang kami terima menyatakan bahwa Pilkada 2024 di Jakarta akan berlangsung dua putaran.”